Hegemoni Global AS

Posted: by Aldian Kresna N. in Label:

CIA & USAID Semai "Demokrasi" di Indonesia 1965 Hingga ke Ukraina 2014 ( Bag. 1 )

   USAID punya sejarah kerjasama dengan CIA sebagai [sarana] operasi garis depan untuk membantu mereka menyebarluaskan jenis khusus "demokrasi" (Baca: IMF menginspirasi penindasan brutal) di negara-negara di mana AS telah menanam diktator brutal demi mendukung agenda ekonomi neoliberalnya. Demikian ungkap jurnalis investigatif, Scott Creighton.


   Kemudian, Creighton mengutip laporan Washington Post, "Di Vietnam Selatan, US Agency for International Development (USAID) memberikan selubung bagi operasi CIA, yang saking luasnya, kedua [organ itu] menjadi nyaris identik."

   Saat badan serikat pekerja dan pembangkang yang menumpuk di tangga Odessa dan jalan-jalan di timur Ukraina, imbuhnya, hari ini dilaporkan bahwa USAID membutuhkan beberapa juta [dolar] untuk mendukung "media" pro-Barat dalam upaya konteks pemilu palsu yang akan diadakan di negara yang sedang dirundung masalah akibat ulah AS dan NATO itu.

   Menurut Press TV, kata Creighton, USAID telah berjanji untuk meningkatkan bantuan keuangan terhadap media Ukraina pro-Barat di tengah sengketa yang memanas antara Barat dan Rusia.

   Dua minggu lalu dilaporkan bahwa badan tersebut menciptakan sebuah program serupa Twitter (ZunZuneo) di Kuba dengan tujuan menyuburkan perbedaan pendapat dan menciptakan kerusuhan di negara itu dengan harapan mencipta revolusi berwarna untuk perubahan rezim. "Ternyata usaha mereka tidak terbatas di Kuba," ungkap Creighton.

   "Di sejumlah negara, termasuk Venezuela dan Bolivia, USAID lebih bertindak sebagai lembaga yang terlibat dalam aksi rahasia, seperti CIA, ketimbang sebagai badan amal atau pembangunan," kata Marc Weisbrot dalam buku karya Noam Chomsky, "Failed States: The Abuse of Power and the Assault on Democracy", sebagaimana dikutip Creighton.

   Perlu dicatat bahwa upaya USAID tidak terbatas pada operasi psikologis (psyops) Topi Putih.

   Berikut laporan Pando Daily seperti dikutip Creighton, "Guatemala: Pada 1970, USAID melatih lebih dari 30 ribu polisi Guatemala untuk menekan kaum kiri lokal , menurut buku William Blum 'Membunuh Harapan'. Hanya satu dekade berikutnya, pasukan maut Guatemala di bawah diktator dukungan AS, Rios Montt, melancarkan genosida terhadap petani Maya."

   Harian itu melanjutkan, "Perang Vietnam: USAID melatih polisi dan memberlakukan penjara-penjara sipil. USAID juga berpartisipasi pada sisi 'lunak' Program Phoenix--pendanaan gagal Program 'Land to Tillers' yang memberikan lahan sempit pada para petani, sebuah program yang memiliki rekam-jejak buruk, namun melayani beberapa tujuan penting kebijakan luar negeri/propaganda setiap saat diluncurkan karena tetap menjadi salah satu pekerjaan tanpa manfaat (buat para petani) yang paling abadi dalam program USAID."

   "Pada awal 1960-an, agen-agen Departemen Luar Negeri AS, Baret Hijau, CIA, dan USAID mengorganisasikan dua kelompok paramiliter yang akan menjadi tulang punggung sistem pasukan pembunuh negara itu," ujar Greg Grandin (http://inthesetimes.com/article/3697/no_strings_attached

).

   Menurut Pando Daily, mereka bahkan terlibat di Rusia selama bencana neoliberal Yeltsin. "USAID mendanai [Anatoly] Chubais (sosok dibalik privatisasi perusahaan milik negara di masa Boris Yeltsin) melalui organisasi swasta-publik dan program Harvard yang sangat terang-terangan korup. Harvard dan direktur programnya, termasuk ekonom Andrei Shleifer, dituntut Departemen Kehakiman AS 'bersekongkol untuk menipu' pemerintah AS (untuk tidak menyebutkan Rusia)."

   "USAID juga membayar [jasa] humas raksasa, Burson -Marsteller, untuk menjual program kupon bencana pada masyarakat Rusia dalam iklan media massa blitz yang mempromosikan partai politik Chubais pada malam pemilihan parlemen. Semacam itulah USAID mendanai privatisasi, dan 'para demokrat' Rusia yang disokong USAID, yang menyeret Rusia pada kapitalisme pasar dan demokrasi (berganti nama menjadi 'dermokratsia' atau 'shitocracy' dalam bahasa Rusia)."

   "Upaya USAID di Ukraina bukan hal baru," tegas Creighton. Mereka sudah menjalankan trik ini selama bertahun-tahun, kembali ke masa ketika Presiden peraih Nobel Perdamaian (Barack Obama) masih balita di pangkuan ibunya di Indonesia, yang bekerja untuk menciptakan budak IMF/Bank Dunia yang lain; salah satu diktator paling brutal dalam sejarah manusia, Suharto (argumen ini berlaku untuk "diktator tersayang" AS di Rwanda, Paul Kagame).

0 komentar :

W A R N I N G !

DALAM BERKOMENTAR SETIDAKNYA ANDA HARUS :

> BERTUTUR KATA YANG SOPAN
> TIDAK BOLEH SPAMING DI BLOG INI
> TIDAK BOLEH MENGANDUNG UNSUR LINK ATAU SEJENISNYA
> TIDAK BOLEH BERKOMENTAR DENGAN HAL YANG TAK PANTAS

ATAS KERJASAMANYA SAYA UCAPKAN TERIMAKASIH.
BY :ADMIN


Selamat datang

Halo para pengunjung ! Selamat menjelajah dan semoga ilmunya bermanfaat , terimakasih.